Oleh: Lalu Siraju Hadi *

Dalam setiap momentum sirkulasi kepemimpinan terjadi, baik pada tradisi kepemimpinan formal maupun informal, tentang adanya perbedaan gaya (style), keperibadian dan visi serta kekhasan bawaan setiap orang (figur) adalah hal yang lumrah. Hal ini adalah sebuah bacaan penting, bahwa setiap manusia diciptakan Tuhan, lengkap dengan keuinakan, kelebihan dan kekurangan yang berbeda satu dengan lain, yang tidak mungkin dipaksakan untuk sama satu dengan lainnya.

Kementerian Agama sebagai organ resmi (formal-legal) negara, dalam sejarah kehadirannya, memiliki akar historis penuh makna, bagi masa kini dan masa depan identitas kebangsaan kita, Indonesia. Tidak saja karena Kementerian Agama didirikan oleh para tokoh agama dan para ulama, tetapi karena misi Kementerian Agama bagi bangsa Indonesia, sarat dan sesak dengan misi kemuliaan (profetik), yang di dalamnya adalah tentang kebaikan dan pradaban, bagi kehidupan berbangsa dan bernegara, di atas landasan nilai-nilai spiritual religius yang kuat.

Dalam konteks rumah besar Kementerian Agama Provinsi NTB, fungsi-fungsi kelembagaan memiliki peran strategis dan central dalam pembangunan ummat beragama. Dengan harapan, terwujudnya kehidupan beragama yang produktif, moderat, toleran dan konstributif bagi pembangunan ummat, bangsa dan negara. Mengusung tagline dan program Kementerian Agama menuju Zona Integritas dan Kepedulian Individu yang Religius (GEMA ZIKIR) oleh tokoh Kementerian Agama NTB, menjadi sebuah pertanda, bahwa Kementerian Agama Provinsi NTB telah menabuh genderang optimisme dan harapan, tentang sebuah konsep dan praktik ajakan-ajakan luhur yang harus dijalankan, secara penuh konsistensi dan komitmen, personal institusional. Itulah konsekwensi logis dan etis dari sebuah pesan moral.

Maka kemudian, jika kita memahami latar filosofis kehadiran Kementerian Agama di republik ini, maka pada hakikatnya Kementerian Agama adalah “jantung” bangsa Indonesia. Karena ia adalah jantung, maka ia harus berdetak secara fungsional bagi kebaikan ummat, bangsa dan negara. Nilai-nilai universal agama yang berkembang selama ini di Indonesia, adalah anugrah sekaligus sebagai energi positif. Energi yang selama ini telah dijadikan tenaga yang “digdaya” dalam menjaga dan membangun Indonesia, sebagai bangsa yang terhormat dan bermartabat, di tengah-tengah kemajemukan dan keberagaman.

Oleh sebab itulah, kita besepakat bahwa Indonesia bukan bangsa skuler, tetapi bangsa yang di dalamnya berkembang nilai-nilai universal agama-agama, yang menjadi rahmat dan sekaligus menjadi pedoman dalam praktik baik kehidupan antar sesama. Kata Gema, populer dan umum diartikan sebagai pantulan suara atau bunyi yang berulang-ulang, bertalu-talu, bunyi atau suara yang memantul dari suara atau bunyi asalnya. Bahwa kemudian gema indentik dengan suara dan bunyi, merupakan sebuah simbol harfiah, bahwa suara atau “kalam” setiap aparatus Kementerian Agama, adalah kalam-kalam kebaikan (mauizatun Hasanah), yang padanya terletak konsep tanpa jeda (berulangkali) dalam mengajak semua elemen untuk selalu melakukan inovasi, kreatifitas, ketauladanan dan praktik-praktik baik lainnya, secara terus menerus. Kebaikan dan profesional aparatus harus sahut-menyahut dan bertalu-talu, dilakukan dengan spirit kesungguhan yang total, untuk melakukan dan memberikan yang terbaik bagi kemasalhatan ummat beragama, berbangsa dan bernegara.

Zikir secara simbolis (harfiyah) memiliki arti tentang daya ingat dan daya sebut. Dalam terminologi Islam, zikir biasanya dikaitkan dengan cara mendekatkan diri atau bertaqarrub kepada Allah, dengan ibadah dan amalan, wajib dan ataupun sunnah. Zikir dalam makna mengingat, adalah sebuah pesan matrial sekaligus moral, bahwa dengan banyak mengingat, maka manusia akan selamat dalam kehidupannya dan terhindar dari segala kesesatan dan keburukan hidup. Ibnu Athaillah al-Sakandari penulis kitab al-Hikam, membagi katagori zikir menjadi tiga yakni (1) zikir jali, yakni zikir yang dilakukan untuk mengingat Allah, menyebutnya dan mengucapkannya secara lisan secara fasih (rentunya), diucapkan dengan jelas untuk mentuntun gerak hati seorang hamba, (2) zikir khafi, yakni zikir yang dilakukan secara khusus dan khusuk oleh ingatan hati, baik disertai secara lisan atau tidak.Pada level zikir khafi ini, kemampuan sufistik seorang lebih tinggi, karena ia tidak saja memiliki kemampuan melihat benda atau objek secara matrial saja, tetapi dibalik zat yang menciptakan sebuah benda, dan (3) zikir haqiqi, adalah zikir yang dilakukan oleh seluruh jiwa dan raga, kapan dan dimana pun eksistensi dirinya berada.

Zikir haqiqi tidak terbatas pada ruang dan waktu, ia aktif dalam semua relasi transendentalnya dengan Allah. Tidak ada yang lain selain menjalankan semua perintah Allah, dan menjauhi segala bentuk larangan Allah. Karena secara etimologi zikir adalah tentang menyebut dan mengingat, maka konsep zikir dalam tugas-tugas profesional seorang khalifah Allah di muka bumi, erat kaitannya dengan kemampuan, ketaatan dan kepatuhan untuk berpedoman pada kalam atau teks (aturan) yang baik dan dibenarkan secara norma. Sedangkan pada konteks (output), zikir adalah tentang pekerjaan dan prilaku yang baik, untuk mendapatkan dan memberi manfaat yang banyak, bagi kebaikan ummat bangsa dan negara GEMA ZIKIR; Sebuah Respon Epistemologis Etis ? Dalam perspektif epistemologi, Gema adalah proses dari sebuah kerja atau amalan-amalan moral dan kerja-kerja peradaban yang terus menerus (jariah), yang tidak terputus (diskontinu) dalam dakwah dan ajakan kepada kebenaran dan kebaikan. Bahwa kemudian kebaikan adalah harus disampaikan walaupun pahit, menjadi sebuah keniscayaan yang harus dikerjakan, sebagi bentuk dan respon epistemologi keimanan dan keberilmuan setiap aparatus Kementerian Agama, kapan dan dimanapun ia berada. Gema adalah tentang irama memantulkan kebaikan kepada sebanyak-banyaknya orang, dari kesholehan pribadi menjadi ksholehan sosial, dari pengalaman baik peribadi menjadi pengalaman bersama, dari praktik baik sendiri menjadi praktik baik bersama, dan lain sebagainya. Kesemuanya dilakukan dengan cara baik (haq), terus menerus dalam kontkes yang dinamis-saling mengajak kepada taqwa dan kebaikan. Sebuah pantulan atas kondisi hari ini, menuju kondisi dan tujuan yang lebih baik dan lebih maju dari sebelumnya.Oleh sebab itu, pada hakikatnya makna epistemologi GEMA, adalah kegigihan dan semangat terus-menerus, berulang-ulang, sahut menyahut, bertalu-talu dalam saling mengajak dan saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran, menuju tujuan dan visi misi lembaga yang diridhoi dan dicita-citakan.

Di sisi lain, ZIKIR yang memiliki makna ingat, iling dan menyebut, dalam kontek mengingat Allah SWT. Zikir dalam perspektif epistemologis dapat dimaknai sebagai sikap disiplin setiap aparatus Kementerian Agama (khususnya). Disiplin dan patuh dalam segala aktivitas dan tanggung jawab kehidupannya, disiplin waktu dan disiplin tugas. Bahwa dengan zikir atau mengingat tugas fungsi dan tanggung jawab, hakikatnya adalah sebuah cerminan atas integritas setiap orang. Integritas atau kepribadian aparatus, adalah sebuah bentuk dan sifat kedirian, entitas dan identitas seseorang terhadap diri, orang lain dan Tuhan-Nya. Bagi aparatus yang memiliki integritas, maka ia zikir (ingat) bahwa pada dirinya melekat banyak tuntutan kewajiban etik moral. Bahwa pribadinya harus rnejadi contoh yang baik (uswatun hasanah), jujur (amanah), sabar, bertanggung jawab, dan pantang membuat cacat diri dan dosa khilaf secara sengaja.

GEMA ZIKIR , pada akhirnya kemudian tidak hanya sekedar sebagai tagline dan pembeda dari ajakan figure atau tokoh, tetapi harus lebih dari itu. Sesuatu yang dapat bertranformasi secara dahsyat dan massif, sebagai praktik-praktik baik, yang harus didedikasikan bagi Kementerian Agama secara kelembagaan, dengan marwah (soul) yang senantiasa terjaga dari segala sifat dan hal mafsadat. Tetapi sebaliknya, tidak ada perjalanan waktu yang dilalui, selain memberikan yang terbaik bagi ummat, bangsa dan negara. Gema zikir adalah perjalan dari sebuah konsep dan mindset untuk berubah, menuju sebuah tatanan yang lebih bermarwah, dengan berpegang teguh kepada nilai keilahiyan dan religiusitas, sebagai basis spirit yang dibangun bersama, menuju tercapainya visi kelembagaan bagi kepentingan peradaban manusia. GEMA ZIKIR harus menjadi sesuatu yang hidup secara dinamis, bukan tentang teks semata, tetapi tentang konteks yang luas dan menjangkau semua dimensi, untuk harus memiliki kesadaran berubah, menuju kepada kebaikan diri dan kebaikan bersama. Artinya, kementerian Agama sebagai rumah bersama, adalah horizon dan hamparan luas untuk beramal sholeh, tempat pribadi-pribadi ikhlas, profesional dan berintegritas. Rumah besar bersama yang harus dijaga dan dirawat, agar tetap menjadi oase penyejuk, dengan pohon-pohon amal baik yang rimbun, sebagai bukti nyata tentang makna tanggug jawab dan penghidmatan.

Dalam dimensi nilai-nilai religiusitas, makna GEMA adalah tentang ajakan terus-menerus (kontinuitas) kepada kebaikan dan kesabaran. Sedangkan makna ZIKIR adalah tentang ketaatan dan kepatuhan diri (displin) kepada norma-norma, untuk berubah menjadi lebih baik dan lebih bermartabat. Mulia dan bermartabat dihadapan Tuhan dan dihadapan sesama manusia. Wallahu’alam.

Penulis* Ketua Ikatan Guru Madrasah (IGMA) Provinsi NTB.

Leave a Reply

avatar
200
  Subscribe  
Notify of