Suasana di depan salah satu toko pakaian di Kota Mataram pasca diberlakukan kebijakan penutupan

Mataram (Bidikntb.com)– Gubernur Nusa Tenggara Barat, Dr. H. Zulkieflimasnyah sudah tegas menginstruksikan penutupan tempat keramaian dan pusat perbelanjaan. Keputusan itu disampaikan  saat rapat koordinasi terkait pelaksanaan Salat Idul Fitri bersama Wakil Gubernur dan jajaran forkopimda di Ruang Rapat Utama, Kantor Gubernur NTB, Selasa, 19 Mei 2020.

Gubernur juga menghimbau apa yang telah diputuskan tersebut bisa ditindaklanjuti oleh pemerintah kabupaten/kota di NTB.

Beberapa kepala daerah dan kota menindalanjuti instruksi tersebut dengan cara yang berbeda. Seperti kota Mataram pada 20 Mei 2020 sudah mulai bergerak melakukan penutupan toko-toko yang menjadi pusat keramaian.

Tercatat 18 toko besar yang menjadi pusat keramaian ditutup oleh gabungan Polri, TNI, Dinas Perhubungan dan Sat Pol PP.

Berdasarkan pantauan bidikntb.com pada Kamis (21/5) bahwa tidak ada lagi aktivitas pada toko yang sudah dinyatakan ditutup di kota Mataram, seperti di Apolo, Niaga, boxi, dan Airlangga Fashion.

Namun beda halnya dengan Kabupaten Lombok Timur, toko-toko tetap diberikan beroprasi sehingga terkesan embalelo.  Walaupun telah membatasi jam oprasional pusat perbelanjaan dan toko-toko pakaian mulai dibuka dari pukul 09.00-15.00 Wita.

Kebijakan tersebut tertuang dalam surat edaran Bupati Lombok Timur nomor 338/139/KPBDN/2020 perihal pengaturan kembali jam oprasional pusat perbelanjaan dan toko pakaian di seluruh Kabupaten Lombok Timur.

Dikutip dari surat edaran tersebut “Pemerintah Lombok Timur mengatur kembali jam oprasional pusat perbelanjaan dan toko-toko pakain yang semula dimulai pukul 09.00-18.00 Wita dirubah menjadi pukul 09.00-15.00 Wita”

Penutupan paksa akan dilakukan jika ada pedagang tidak memenuhi aturan tersebut.

Menanggapi edaran Bupati Lombok Timur, salah satu aktivis asal Lotim Zainul Ahzan memberikan sentilan lantaran toko tetap diatur jam oprasionalnya sementara sampai sekarang masjid belum diberikan beroprasi.

“Ngak bisa berkata apa-apa sudah! atau mungkin karena masjid ngak ada pemasukan untuk negara/daerah,beda denga mall atau pusat perbelanjaan, pajaknya lumayan” tuturnya.

Lebih lanjut Ahzan mempertanyakan aturan yang dibuat oleh Bupati Lombok Timur.

“Mohon penjelasan dari para Datu di Lotim, Diperbolehkan ke pusat perbelanjaan dri jam 09.00 – 15.00 wita (6 jam). Sedangkan shalat Ied di lapangan/masjid dari jam 07.00 – 08.30 wita (1,5 jam) dilarang. Sebegitu lebih berbahayakah kegiatan ibadah daripada berkerumun di perbelanjaan. Sesulit itukah pemerintah untuk bisa TEGAS dan ADIL dlm kebijakannya? Atau kita numpang shalat ied nanti di pusat perbelanjaan, mungkin dibolehkan” Ungkapnya.

Leave a Reply

avatar
200
  Subscribe  
Notify of